Selasa 06 Feb 2024 00:00 WIB

Mengenal Sistem Back End Load yang Penting Dipahami Investor Reksa Dana

Apa itu back end load, termasuk cara kerja, keuntungan, hingga kekurangannya? Cermati telah merangkum panduannya berikut ini!

Rep: cermati.com/ Red: cermati.com
Cermati
Foto: Cermati
Cermati

Jika kamu baru pertama kali mencoba investasi, reksa dana pasti menjadi salah satu instrumen yang dianjurkan untuk dipilih. Pasalnya, produk ini memiliki cara kerja yang simpel dan cocok untuk investor pemula. 

Akan tetapi, terkait cara kerjanya, kamu perlu memahami jika reksa dana umumnya membebankan biaya yang wajib dibayarkan oleh investornya. Salah satu contohnya adalah back end load. Sebagai salah satu jenis pembebanan biaya yang sering ditemui di produk reksa dana, investor perlu memahami tentang back end load ini. 

Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai apa itu back end load, termasuk cara kerja, keuntungan, hingga kekurangannya, Cermati telah merangkum panduannya berikut ini

 

Pengertian Back End Load

back end load

Pada dasarnya, back end load adalah jenis biaya yang dibebankan kepada investor ketika melakukan penjualan unit kepemilikan reksa dana. Biaya ini biasanya dibebankan berdasarkan persentase nilai unit kepemilikan reksa dana, dan bisa berlaku sebagai biaya tetap. 

Namun, ada pula produk reksa dana yang membebankan biaya ini dengan nominal yang terus berkurang seiring waktu. Untuk kasus ini, biaya ini akan memiliki persentase tertinggi di tahun pertama dan akan terus menurun hingga menyentuh angka nol persen. 

Umumnya, pengenaan biaya ini diberlakukan sebagai bentuk kompensasi atas layanan yang disediakan oleh penyedia layanan investasi kepada kliennya dan bukan termasuk sebagai pengeluaran operasional reksa dana. Biaya back end load juga memiliki banyak sebutan lain, seperti biaya back end sales dan exit fee.

Cara Kerja Back End Load Reksa Dana

Secara umum, pengenaan biaya ini muncul ketika reksa dana menawarkan kelas unit kepemilikan yang berbeda. Sebagai contoh, reksa dana kelas A biasanya membebankan front end load, sementara back end load berlaku pada reksa dana kelas B dan kelas C.

Biaya penjualan atau load adalah jenis biaya yang berlaku pada produk reksa dana dan menjadi cara bagi penasihat keuangan untuk mendapatkan komisi dari penjualan unit kepemilikan reksa dana pada investor. Jenis reksa dana tersebut menawarkan kelas unit kepemilikan yang berbeda dengan struktur biaya yang berbeda pula bagi investor. 

Ketika memahami back end load, jangan menyamakannya dengan biaya redemption. Pasalnya, pengenaan biaya redemption ini diberlakukan untuk menurunkan frekuensi perdagangan oleh investor yang mampu mengganggu proses mencapai tujuan investasi reksa dana. 

Struktur Biaya Back End Load di Kelas Saham Berbeda

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, beda kelas unit kepemilikan memiliki struktur biaya yang berbeda. Misalnya, unit kepemilikan kelas A biasanya membebankan biaya back end load yang muncul ketika pertama kali berinvestasi atau menanam modal. Sementara pada kelas B, biaya yang dibebankan adalah back end load yang dikenakan ketika investor mencairkan aset investasinya. 

Sedangkan untuk kelas C biasanya menggunakan metode beban biaya yang disebut level load fund. Kelas ini biasanya mengenakan biaya back end load yang rendah, walaupun cenderung memiliki pengeluaran operasional yang lebih tinggi dibanding yang lain. Tapi, secara umum, pengenaan biaya di setiap kelas unit kepemilikan reksa dana tersebut diberlakukan sebagai upaya untuk membayarkan kompensasi ke layanan keuangan dan bukan termasuk biaya operasional reksa dana. 

Keuntungan Metode Back End Load

keuntungan investasi

Sebagai salah satu jenis biaya yang kerap dibebankan pada produk reksa dana, ada beberapa keuntungan metode back end load yang bisa dirasakan oleh investor, antara lain:

  • Metode biaya ini mampu menekan aktivitas perdagangan berlebihan dan penarikan modal tidak penting di awal.
  • Berbeda dengan front end load, investor bisa menghindari pengenaan biaya back end load dengan menahan modal investasinya selama 5 sampai 10 tahun ke depan. 
  • Unit kepemilikan kelas B sering kali dialihkan ke kelas A dengan rasio biaya pengeluaran lebih rendah setelah 6 sampai 8 tahun. 
  • Seluruh modal investasi bisa berkembang dengan lebih optimal karena tidak terpangkas di awal selayaknya saat dikenakan biaya front end load

Kekurangan Metode Back End Load

Memang, penggunaan metode back end load bisa memberikan banyak keuntungan dan keunggulan bagi investor. Tapi, tidak sedikit ahli finansial yang mengkritisi pengenaan biaya beban ini karena dianggap sebagai pengeluaran yang tidak penting bagi kebanyakan investor di abad ke 21 ini. ETF atau exchange traded fund dan reksa dana jenis no load saat ini terbilang mudah diakses dan tidak mengenakan biaya back end load yang mampu merugikan investor. 

Secara umum, kekurangan metode back end load adalah sebagai berikut. 

  • Metode ini menambah beban biaya tanpa ada potensi meningkatkan imbal hasil investasi.
  • Metode back end load kerap diabaikan ketika pertama kali menanam modal di produk reksa dana.
  • Pengenaan back end load sering kali membebani investor yang harus melakukan penarikan lebih cepat karena kondisi darurat atau kebutuhan mendesak.

Mengenakan Biaya Beban saat Penjualan Aset, Cek Back End Load Sebelum Investasi

Intinya, back end load adalah jenis biaya yang dibebankan kepada investor ketika menjual unit kepemilikan reksa dana yang dimilikinya berdasarkan persentase nilai tertentu. Meski menawarkan sejumlah keuntungan, tapi di kondisi tertentu pengenaan biaya beban ini bisa merugikan bagi investor. Karenanya, sebelum mulai berinvestasi, pahami dulu apakah metode back end load ini dibebankan pada investor atau tidak dan sesuaikan biayanya dengan kebutuhan serta tujuan investasimu

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Cermati.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Cermati.com.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement